♥ Anne's posts with tag: book review
 | Category: | Books | | Genre: | Travel | | Author: | Trinity |
Buku yang bagus dan bisa jadi guide tidak resmi bagi yang senang bepergian dan akan pergi ke luar negri. bahasanya ringan dan kocak. selalu menemukan sisi lain yang menarik dari suatu tempat..bisa hal yang lucu, menjijikkan, menyenangkan, serem..semuanya. IMHO, Naked Traveler ini memang bukan buat panduan jalan-jalan, lha wong memang berasal dari jurnal pribadi. jadi ngga heran kalau banyak pengalaman personal dilihat dari kacamata Trinity. Menurutku asik-asik aja baca buku ini, (one of my fave, actually) karena tiap orang mengalami pengalaman dan punya kesan yang berbeda di tiap perjalanan liburannya. Buatku yang jarang jalan-jalan buku ini jadi menyenangkan, serasa mendengarkan teman/sodara pulang bepergian.. Sayang ngga sempat nonton Empat Mata, jadi aku ngga bisa lihat orangnya kayak apa. Kayaknya sih emang cuek banget ya, kalau dari yang kubaca di buku. Trinity nama samarannya. Cewek ini backpaker asal Indonesia yang udah melanglangbuana dan mendokumentasikan perjalanannya dalam bentuk catatan. Menarik sekali isinya. Lugas, kocak, apa adanya. Sayang, dengar-dengar dari bukunya yang udah terbit ada kena sensor. Penasaran, kan? :) 
 | Category: | Books | | Genre: | Teens | | Author: | Sally Nicholls |
published 2008 by Gramedia Pustaka Utama binding Hardcover isbn 1407104993 (isbn13: 9781407104997) pages 215 Fact: Around 1,700 children are diagnosed with cancer every year. Fact: More than 7 out of 10 children are cured – nearly 3 out of 10 children die. Fact: Nearly 25% of childhood deaths are caused by cancer. Of all childhood cancers, leukaemia is the biggest killer. Fact: We don’t like to talk about death – particularly the death of children. Fact: We don’t like facing facts. But Sam does! From Sam and the rich cast of characters we learn not only what it’s like to have cancer but also how people react to terminally ill children: the almost suffocating concern of his Mum, the denial of the situation of his Dad, the everyday ordinariness of eight-year-old sister Ella who cannot understand why Sam gets special attention, and the no-nonsense Grandma, whose down-to-earth approach consistently reassures everyone. We owe it to our children to talk about the facts of dying – and not just in the context of badgers or elderly relatives. Children aren’t afraid of the facts, and nor should we be. Sally Nicholls has made a brilliant start at addressing what should not be a taboo subject in the world of children’s books. -- Sam penasaran tentang hantu dan UFO---dan kematian. Sam mengidap leukemia. Sebentar lagi dia akan mati. Dan kematian adalah salah satu fakta kehidupan. Ways To Live Forever adalah buku harian Sam yang berisi daftar-daftar, cerita-cerita, foto-foto, berbagai pertanyaan dan fakta yang dikumpulkannya selama minggu-minggu terakhir kehidupannya. Pandangannya yang jernih tentang kehidupan dan kematian membuat kematian menjadi hal yang tidak lagi tabu dibicarakan. Anne's reviewBuku ini sebetulnya manis sekali. Aku jatuh cinta ama buku ini pas membaca sinopsis di sampul belakangnya, tentang kematian di mata anak kecil penderita leukemia. Siapa bilang kematian itu mengerikan? Siapa tahu malah asyik, dan seru? Seperti komentar Granny di buku ini," ..Kematian itu seperti ulat dalam kepompong. Kalau takut keluar dari kepompong, kapan bisa berubah jadi kupu-lupu yang cantik?" Mungkin kalau lihat versi aslinya lebih jatuh cinta lagi (karena sampul terbitan GPU ngga cukup menggambarkan kisah tentang Sam dan kematian). Penasaran aja ama jalan ceritanya, karena kebetulan beberapa hari terakhir ini aku membaca banyak obituari, dan konsep kematian bagi anak kecil adalah sesuatu yang hampir tidak pernah diangkat di buku (setidaknya aku baru baca yang ini). Tutur cerita dan penggambaran karakater Sam begitu mengalir. Ada beberapa adegan yang bagiku sangat personal dan digambarkan begitu indahnya. Saat tokoh Dad -sang Ayah- yang selama ini dingin dan apatis (karena dia sendiri sebetulnya selalu menyangkal akan kesehatan Sam yang memburuk) menajdi ayah yang begitu hangat dan penuh kasih sayang ketika mendampingi Sam tertidur. Aku jadi inget waktu aku masih kecil terserang asthma yang cukup berat dan bikin tidak bisa tidur..Papa bangun dan menjagaku :'( Visit the website: http://www.sallynicholls.com/books/waystoliveforever.php
   | Brida | May 9, '08 6:53 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Paulo Coelho |
published 2008 by Harper Collins binding Trade Paperback
Anne's review: After The Alchemist, I think this is the book I have to add to my collection and read. Thanks to Aksara Bookstore, I spent the book voucher to buy this book :D
==
This is the story of Brida, a beautiful young Irish girl, and her quest for knowledge. On her journey she meets a wise man who teaches her about overcoming her fears, and a woman who teaches her how to dance to the hidden music of the world. They see in her a gift, but must let her make her own voyage of discovery.
As Brida seeks her destiny, she struggles to find a balance between her relationships and her desire to transform herself.
A moving tale of love, passion, mystery and spirituality from the master storyteller and author of The Alchemist. 
 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Barack Obama |
Anne's Review: I bought this book for my Dad's bday present, since he is Barrack Obama fan :) I think this book is beautifully written, and show us the answer of identity, class and race.
In this lyrical, unsentimental, and compelling memoir, the son of a black African father and a white American mother searches for a workable meaning to his life as a black American. It begins in New York, where Barack Obama learns that his father—a figure he knows more as a myth than as a man—has been killed in a car accident. This sudden death inspires an emotional odyssey—first to a small town in Kansas, from which he retraces the migration of his mother’s family to Hawaii, and then to Kenya, where he meets the African side of his family, confronts the bitter truth of his father’s life, and at last reconciles his divided inheritance. 
 | Category: | Books | | Genre: | Arts & Photography | | Author: | Thomas Kinkade |
published 2004 by : Andrews McMeel Publishing binding : Hardcover isbn: 0740742604 (isbn13: 9780740742606) pages: 96
Anne's review: This is my student's favourite book. Mereka selalu ingin mencoba melukis dengan pemandangan indah seperti yang ada di buku ini.
Tema yang diangkat buku ilustrasi ini sama: mercu suar, hanya ditampilkan dalam lokasi dan suasana berbeda. Ada yang dalam suasana badai, ada yang di pagi hari, ada yang pas sunset..Semuanya indah!
Buku ini juga dilengkapi dengan kutipan indah dari Louisa May Alcott, T. S. Eliot, James Allen, Emily Brontë, Ralph Waldo Emerson, Edith Wharton, dan Thomas Kinkade sendiri.
Kapan-kapan aku post lukisan muridku,yah!!
==
The lighthouse remains one of civilization's strongest symbols. Through its image of light and strength are projected some of our most cherished values: hope, direction, steadfastness, duty, reliability, comfort, and home. Artist and author Thomas Kinkade knows this powerful symbolism well, and he captures it through his latest collection of paintings and inspiring thoughts, Beacons of Light. 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Ruth Wajnryb |
published 2005 by Free Press binding Hardcover isbn 0743274342 (isbn13: 9780743274340) pages 304
Anne's review: Syukur kalau kalian bukan termasuk orang yang suka mengumpat dan obral kata-kata kasar di depan umum, ya. Meski sangat manusiawi kalau sedang sangat kesal akhirnya keluar juga kata-kata indah yang hanya pantas menghuni kebun binatang atau toilet..
Tapi buku ini menarik, karena si penulis mengupas bahasa umpatan manusia ini dengan pendekatan dari segi etymology (studi tentang sumber dan pengembangan bentuk kata-kata), budaya dan sosiologi. Melalui serangkaian riset, ibu ini dengan cara menarik, misalnya kenapa untuk jenis umpatan tertentu buat kalangan teman sendiri ngga jadi masalah besar sementara kalau ditujukan pada orang lain bisa menimbulkan bencana.
Have we always "sworn like sailors"? Has creative cursing developed because we can't just slug people when they make us angry? And if such verbal aggression is universal, why is it that some languages (Japanese, for instance) supposedly do not contain any nasty words? Throughout the twentieth century there seems to have been a dramatic escalation in the use and acceptance of offensive language in English, both verbally and in print. Today it seems almost commonplace to hear the "f" word in casual conversation, and even on television. Just how have we become such a bunch of cursers and what does it tell us about our language and ourselves? 
 Siapa Tantan? Siapa Kuifje? Siapa Tintin? Kalau Tintin mungkin semua orang tahu, dia wartawan Belgia berjambul yang selalu terlibat petualangan seru. Useful links:Thanks to Lala, aku jadi maen ke milis Tintin_Id lagi. Lalu mau ngga mau maen ke sini juga: http://www.tintin.com/dan melihat nama-nama karakter komik dalam berbagai bahasa di sini: http://www.cs.unimaas.nl/~wiesman/kuifjeindex/talen.htmdan membandingkan cover komik lama dan baru di blog-nya Jaka Kandaga di sini. Baru-baru ini Gramedia membeli hak peredaran komik Tintin Indonesia dari penerbit INDIRA dengan berbagai perubahan mendasar, misalnya nama-nama tokoh yang mengacu pada terbitan Perancis. Maklum, INDIRA mengacu pada Tintin terbitan Inggris (Egmont) . Terbitan Gramedia konon berubah untuk lebih mengacu pada edisi asli Belgia yang notabene penduduknya berbahasa Perancis. Dulu, karakter yang kukenal dekat bernama Snowy, Prof. Calculus, Thompson dan Thomson, mungkin sekarang membiasakan diri dengan nama-nama baru. Misalnya: -Snowy menjadi Milo (Perancis: Milou) -Calculus jadi Lakmus (bahan kimia), -Thompson dan Thomson jadi Dupont cs (Perancis: Dupond and Dupont) Waah..susahnya..Gimana mungkin mengubah kenangan yang begitu berkesan? Seperti mengutip ucapan pak Pandu dari Paguyuban Karl May yang juga pecinta Tintin, " Aha, hijrahnya Tangtang (kok rasanya aneh ya? bukan Tintin) dari Indira ke Gramedia ini mengingatkan saya pada kasus Winnetou di Indonesia... Apalagi kalau penerjemah yang sekarang (usia 25-40 tahunan ) sama sekali tidak pernah membaca terjemahan yang versi dulu. Memang mahal kok harga suatu nostalgia itu." Jawaban dari GPU seputar penggantian nama: " Snowy adalah nama di Tintin edisi bahasa Inggris (penerbit Egmont), sementara GPU punya kontrak dengan penerbit Tintin yg asli, yaitu Casterman, untuk menerbitkannya dalam bahasa edisi aslinya, yaitu Prancis. Milou diubah jadi Milo dengan pertimbangan Milo lebih mudah diucapkan anak-anak sini karena pengucapannya sesuai penulisannya, sementara Milou kan diucapkan Milu. Selain itu rasanya Milo sebagai merek susu cokelat sudah cukup familier untuk anak-anak sini."  Aku sendiri sebetulnya berniat beli edisi terbaru terbitan Gramedia ini. Tapi sejak membaca ulasan teman-teman di milis Tintin Id, kok jadi ragu ya. Aku agak ragu bisa nyaman mengubah segala kebiasaan lama. Apakah sumpah serapah Captain Haddock (nama barunya siapa ya?) akan diperhalus? Padahal aku suka banget " Billions of bilious blistering barnacles!"-nya! Trus ada ganjalan soal penerjemahan Tintin Indonesia ini: " Soal terjemahan GPU, emang rasanya singkatan-singkatan yang ada itu menggangu deh. Sudah menjadi tugas penerjemah untuk bisa menerjemahkan dengan mengira-ngira tempat yang tersedia untuk tulisannya seberapa besar. Kalau tampaknya tidak cukup ya harusnya terjemahannya diperbaiki, jangan malah menggunakan singkatan.- Gege" == Wah, kalau gitu aku ada alasan buat menjadikan lemari buku berisi kumpulan komik Tintin jadi peninggalan berharga,ya! :)Karena selain udah ganti gaya bahasa, ada yang bertanya di milis soal mutu cetakan komik Tintin di bursa buku bekas, berikut jawaban dari moderator milis: " Saat tahun 2005 Indira bangkit kembali, mereka mencetak seluruh 23 judul Tintin yg pernah Indira terbitkan. Alph Art tidak, krn belum pernah sebelumnya diterbitkan. Bbrp tahun sebelumnya Indira tertimpa musibah, yaitu kantor dan gudangnya terbakar. Seluruh film master musnah dan yg selamat hanya bbrp termasuk Tintin. Itupun kondisinya tidak sempurna. Indira sudah memperpanjang kontrak dgn Casterman dan dijanjikan file master Tintin dlm format data. Bukan film. Adanya format data dipastikan kualitas gambar serupa dgn versi aslinya. Namun hingga 2 bulan menjelang peluncuran, CDR tidak kunjung tiba. Indira mengambil keputusan utk mencetak seluruh Tintin menggunakan film master yg tidak terlalu bagus itu (sebagian scan dari komik). Tintin di Tibet tidak dicetak krn film masternya ngga bisa dipakai. Jadi total ada 22 judul yg dicetak ulang. Ke-22 judul itulah yg beredar hingga hari ini, jika masih ada. Ke-22 judul itu tampilannya tidak meyakinkan dan terkesan bajakan. Baru belakangan Tibet dicetak menggunakan data CD dan hasilnya memang cemerlang. Jadi saya yakin komik2 Tintin yg teman2 yakini sbg bajakan itu 9krn kualitasnya jelek), sebenarnya adalah asli. Di kemudian hari, Casterman menegur Indira krn hasil Tintin tidak memenuhi standar Casterman. Well, itulah akibatnya jika Casterman ngirim CDR aja lelet. Buruknya cetakan Indira itulah yg menjadi pemicu putusnya kerja sama sejak Rahasia Pulau Hitam terbit tahun 1974 -Suryo"
 | Category: | Books | | Genre: | Professional & Technical | | Author: | Ray Campbell Smith |
published: 2003 by DK ADULT binding: Hardcover isbn : 0789493365 (isbn13: 9780789493361) pages: 384
Anne's review:
I bought this book in a book festival, only for $ 10 (was $ 14.93 at Amazon). It is a classic approach to the technical aspects of art, we can learn of many mediums and how to use them in many ways.
Smith presents a wealth of information on established materials that he organizes first by function--pigments, resins, solvents, and the like--then by media categorized according to discipline. For instance, his section on drawing contains detailed entries on oil pastels, charcoal, and conte crayon. Painting elicits descriptions and depictions of the uses of watercolor, oils, and acrylics. In the printmaking and digital media and photograpzxzhy categories, Smith focuses more on method than media, with subsections on intaglio, lithography, and screenprinting in the former, and, in the latter, a 10-page discussion of computer manipulation of digital images. Throughout, he amply employs full-color illustrations and demonstrations as examples and teaching aids. This excellent overall guide to the visual arts boasts multiple appendixes on color, perspective, health, and safety. With glossary and index, this far-ranging overview is hard to beat.
== Originally published in 1987 by Knopf, this fully revised and updated guide contains updated text and brand new, beautiful, full-color images. Inside the covers, step-by-step projects and glowing reproductions of the great masters inspire readers to expand their vision and experiment with creative techniques. The text is designed to instruct, inspire, and broaden the skills of anyone interested in all aspects of art from drawing, painting, and printmaking to digital media and applied techniques. 
 | Category: | Books | | Genre: | Parenting & Families | | Author: | Jane K. Bates |
published: 2000 by Wadsworth Publishing binding :Paperback isbn : 0534522394 (isbn13: 9780534522391) pages: 336
This book introduces the reader to the field of teaching, discusses theory and practice of Art Education, and synthesizes and prepares the reader to make the transition from reader to Art teacher. It presents art education as an integration of philosophy, history, theory, and practice. Bates illustrates how to apply theory to practice as an art educator. Models, methods, and experiences are provided to enlighten, inspire, and amuse. BECOMING AN ART TEACHER is a refreshing approach to art methods. 
 | Category: | Books | | Genre: | Comics & Graphic Novels | | Author: | Tita Larasati |
Curhat is abbreviation of curahan hati (bahasa Indonesia)= pouring one's heart out, expressing one's feeling, etc.
This is a fun graphic diary made by an Indonesian woman, a lecturer, a wife, a mother of two kids who wants to share her joy of life.
I love this book, because it is so honest, and spontaneous. If you are a mother you must share the same feelings like her. If you are Indonesian, you must also think like her.
Tita made us a big mirror for all us to ponder as Indonesian citizen :) 
 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Carole Wilkinson |
Bagus buat bacaan pembaca muda, karena ringan dan cukup menghibur..
Sekilas mengingatkanku akan buku Eragon, pada awal masa menemukan telur naga.. Buku ini tetap asik dibaca meski karakternya mengingatkanku pada film animasi Disney Mulan. Kental nuansa oriental-nya, meski ngga terlalu menggambarkan sisi kepribadian karakter sebagai bangsa Han. Mungkin karena yang nulis orang Inggris yang lama menetap di Australia, ya. Hmm..jadi inget ama Lian Hearn. Dia juga kayak Carole, sukses nulis novel berseri gaya oriental (klan Otori). Ada apa dengan orang bule ini ya? Sudah jenuh dengan budaya mereka sendiri?
==
Dragon Keeper Carole Wilkinson Matahati (Indonesia) Black Dog Books (Inggris) 2003 358 p.
“Who knows how things will end? Perhaps there is no end.” (Carole Wilkinson, Dragon Keeper, p. 342)
Kisah ini berlatar belakang di Cina Kuno pada masa pemerintahan Dinasti Han, ketika seorang gadis budak berhasil menyelamatkan seekor naga dan membawanya kabur dari cengkeraman majikannya yang jahat, sang Imperial Dragon Keeper, yang bernama Master Lan. Tidak hanya itu, sang gadis dan naga tersebut, ditemani seorang tikus jinak yang bernama Hua, berusaha menyelamatkan sebuah batu misterius dari tangan pemburu naga yang kejam. Mereka berjalan melintasi Cina, untuk menemukan apa yang menjadi takdir mereka sebenarnya.
Buku ini adalah buku pertama kisah gadis budak yang tadinya percaya bahwa dirinya memang tidak cukup berharga—bahkan untuk mempunyai sebuah nama, namun kemudian menemukan kekuatan serta keberanian dalam dirinya untuk melakukan petualangan mendebarkan dan melakukan apa yang harus dia lakukan.
==
Awards
Dragonkeeper CBCA 2004 Book of the Year Winner 2004 Queensland Premier’s Literary Award Winner 2006 Kids Own Australian Literary Awards (KOALA) Winner 2006 Kalbacher Klapperschlange Award (Germany) Joint Winner 2003 Aurealis Award Shortlisted 2004 NSW Premier's Literary Award Shortlisted 2006 Canberra’s Own Outstanding List Award Shortlisted 2006 Young Australian Best Book Award
Garden of the Purple Dragon Winner 2006 West Australian Young Readers Book Award Shortlisted 2007 Young Australian Best Book Award (YABBA) Shortlisted 2006 Queensland Premier’s Literary Awards Shortlisted 2006 Canberra’s Own Outstanding List Award Shortlisted 2006 Kids Own Australian Literature Awards Shortlisted 2006 Young Australian Best Book Award
Dragon Moon Shortlisted 2007 Aurealis Awards, Best Children’s Book 
Link: http://www.theotori.com/BookOne/default.asp "For fans of Japanese samurai warrior fantasy, this novel is right in the ballpark, filled with swords, clan in-fighting, love affairs, invisibility and magical Ninja powers. Mystical powers and martial arts rampage." -- Publishers Weekly
Ngga sabar rasanya pengen lihat kalau novel ini difilmkan. Pengennya bisa jadi the next Crouching Tiger Hidden Dragon..
Kalau udah buka dan baca buku ini memang ngga bisa berhenti karena alurnya cepat. Bercerita tentang pertikaian, konflik, dendam & cinta diantara klan-klan yang bertikai pada masa itu di Jepang. Pada masa itu sangatlah biasa klan yang satu menyerang & membantai klan lainnya. Klan terkuatlah yang menjadi penguasa. Tokoh utamanya Takeo Otori (anak angkat Lord Shigeru dari klan Otori) yang selamat dari pembantaian klan Tribe. Semua keluarga Takeo mati terbunuh. Takeo sendiri diselamatkan oleh Lord Shigeru Otori, yang sangat yakin kalau sebenarnya Takeo masih mempunyai darah Otori juga.
Lalu banyak cerita ketika takeo berubah jadi calon pemimpin klan Otori, kisah cintanya dengan Kaede yang manis, intrik politik..seru deh pokoknya.

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Karla M. Nashar |
http://karlamnashar.blogdrive.com/Inilah contoh yang baik kalau ilustrasi buku yang indah, sekaligus mengangkat isi cerita. Inti cerita buku ini sederhana: mengenai cinta dua dimensi berbeda. Kesan roman klasik-nya sih udah kerasa begitu lihat sampul bukunya. Don't judge the book by its cover. tapi itulah yang terjadi pas aku beli buku ini. Aku suka ilustrasi bukunya .. Ternyata buku ini banyak mengingatkan aku dengan film Kate and Leopold (Meg Ryan dan Hugh Jackman). Setting ceritanya aja yang berbeda. Menceritakan Tara, gadis yatim piatu yang terpaksa jadi tour guide dadakan buat pasangan peneliti sejarah asal Belanda bernama Mr & Mrs Groonevelt. Pasangan ini ingin meninjau museum-museum bersejarah yang ada di Jakarta. Mengingat kondisi keuangan yang cukup mencekik, Tara pun menerima tawaran pekerjaan ini walaupun ia belum berpengalaman sebagai guide. Perjalanan ke museum ternyata menjadi awal pertemuannya dengan Pieter. Pieter adalah pria menarik asal Belanda yang bertemu Tara di sebuah museum besar di Jakarta. Pieter Van Reissen, adalah aristokrat muda Belanda yang datang ke Batavia pada tahun 1905. Dan di masa lalu itu, Pieter memiliki kisah cinta dengan gadis pribumi bernama Yasmin. Cinta Pieter dan Yasmin berkembang kuat, namun tragedi terjadi. Cinta telah direnggut paksa oleh orang-orang di sekitar mereka. Lalu apa hubungan Tara dan Yasmin? baca aja bukunya..aku juga belum selesai baca..hihihi.. 
|
|