♥ Anne's posts with tag: children
| Start: | Jun 18, '08 11:00p | | End: | Jun 29, '08 | | Location: | Parkir Utara Senayan (depan TVRI) |
 info pendaftaran: 021 3901575 (hunting) Ina- 021 944 82 658 Budi- 021 94578334 Lousy- 021 99952036 www.calderaindonesia.com Buat Anda yang punya anak / adik / keponakan yang masih duduk di bangku TK /SD ini ada info menarik buat ngisi liburan anak.. Ada 7 KaMpOeNg Buat Belajar ..... Selama 2 hari aja lho! Dari Tanggal 28-29 JUNI 2008 ----- Di Parkir Utara Senayan (depan TVRI) 1. Kampoeng Keluarga -- jalan repot, tower building, target shooting, head to head, transfer bola, hit d'dino, B2B, Three on Three 2. Kampoeng Tradisional -- membatik, menganyam place mat, menganyam piring lidi, merangkai janur, kreasi sabut kelapa 3. Kampoeng Pengetahuan -- tabung gosip, gelombang trasnfersal, hydrolic, Lampu disko, alarm/infrared, Electric 4. Kampoeng Rasa -- chocolate making, pizza making, membuat kue putu, membuat kue serabi, membuat nagasari, harum manis, milkshake 5. Kampoeng Karya -- menjadi presenter, makeup character, modelling, rancang bangun, kreasi sabun, merakit mobil 6. Kampoeng Maen -- blind soccer, ketapel raksasa, engrang, electric fence, susu bambu, pancing bola, dll 7. Kampoeng Petualangan -- high rope course, flaying fox, climbing wall, BMX track
|  | Foto-foto semasa aku kecil...Lucu yah? Hihihi...
I lived in a small town called Cilacap. Cilacap (old spelling: Tjilatjap) is a regency (Indonesian: kabupaten) in the southwestern part of Central Java province in Indonesia.
These pictures were taken on early 80's. |
 | Dear God | May 13, '08 5:06 AM for everyone |
 Ternyata untuk seorang gadis kecil bernama Sita (keponakanku), menjadi bagian sejarah keluarga pada acara besar seperti pernikahan mungkin memberi kesan tersendiri. Aku sedang mengumpulkan album foto pernikahanku, dan ingat benar celotehnya yang lucu di hari-hari menjelang pernikahanku tahun 2004 lalu. Contohnya adalah ketika ada pengajian di rumahku, Sita tidak lepas dariku. Kemana aku pergi dia pasti ada di ruangan yang sama..hahaha... Malah ketika takjub kamarku selesai dihias oleh Tante Rifat, dia bersikeras untuk tidur di kamarku yang ia sebut seperti kamar putri. (Padahal kamarku kecil dan mungkin karena penuh bunga dia berasa kayak di negri dongeng), hehee..  Lalu ketika Malam Seserahan (kalau orang Jawa bilang Midodareni), Sita selalu menjadi anak yang paling sibuk naik-turun tangga dan gemar mengintipku dirias Tante Tuning. Sesekali dia akan bertanya," Mata tante Anne diapain?", atau "Aku juga mau pake lipstick warna pink.."...atau kalau sedang lolos dari pengawasan ibunya, dia akan berloncatan di atas tempat tidurku yang sudah dihias, atau malah diam terpaku memperhatikanku pasrah di make-over setelah acara siraman. Yang lucu pas di malam saat acara Seserahan usai. Keluarga Oscar sudah pulang, dan aku udah ngga sabar pengen melepas sanggulku...aku lalu melepas sanggul di kamar, dan baru sadar Sita udah ada aja di sampingku dan terpana. "Haaa? Kok rambut tante Anne bisa copot???!!!!!!!!!!!!"
 Rumahku pas hari libur kejepit kemarin udah kayak workshop kecil. Dede (10 th), dan Maeni (12 th) datang berkunjung buat mengisi hari libur mereka. Dede adalah anak pembantuku yang lama. anaknya rajin dan dia mengajak temannya buat cari uang saku tambahan dengan membantuku menyelesaikan pekerjaan boneka. Awalnya harus terus sering diulang, karena namanya juga masih kecil suka asal dan dia kira aku ngga tahu :P. Mungkin sering diulang jadi bikin dia bete, makanya dari awal aku minta kerjakan dengan benar supaya ngga perlu capek2 ngulang :)) Akhirnya bisa tuh , mereka ngerjain dengan rapi :) Memang belum bisa cepat, tapi dengan bantuan mereka udah lumayan banget aku terbantu ngejar pesanan.. Minggu ini pelajarannya jadi bertambah, mulai bikin kepala..mungkin besok bikin rambut, besoknya bikin pola baju, lalu jahit baju, hahahaha...
Tiap keluarga punya gaya komunikasi dan becanda yang berbeda. Termasuk keluargaku, coba deh simak celetukan yang melibatkan semua keponakanku di bawah ini ini: Tentang RAMA (keponakanku) Oom Lukis : "Ram, play station 2nya rusak ya?" Rama : "Udah jalan kok!" Tante Dewi (goda-goda) : " Jalan kemana?" Rama (serius) : "Maksudnya, udah betul...." Oom Lukis (goda-goda) : "Emang tadi salah berapa?" Rama (serius) : "????"  SITA (keponakanku) DI MOBIL Sita (di mobil) : "Yaaah, kartunya jatuh..." (Oom Lukis bantu mencari, nggak ketemu) Tante Dewi : "Heran, masak kartu segepok jatuh nggak kelihatan berceceran???" Mama Yona : "Ya sudah Sita, nanti dicarinya kalau sudah sampai di rumah.." Dhito : "Iya Sit, kamu itu harus bisa menerima takdir....." Seisi mobil : "Ha ha ha ha!!!!" sumber: http://adeguing.multiply.com/ Denpasar, 23 Maret 2008 == HAYKEL (keponakanku) Ini cerita pas Haykel masih berumur 6 tahun, dan Chanti 4 tahun..Mereka lagi ngobrol sambil gambar-gambar di lantai kamar ceu Dewi. Aku ada di situ baca majalah, tapi pura-pura ngga dengar :D Haykel: "Chanti, ngga enak ya jadi anak sulung.." Chanti : *mumbling ga jelas, lagi asik gambar," Hu-uh.." == QINTAN (keponakanku) Waktu itu dia masih balita, dan lagi duduk bareng ibunya yang sedang baca koran Mama Lia:" Dek Qintan, duh kasihan deh... ada kecelakaan bus..yang di dalam bus meninggal semua.." Qintan:" Kalau yang di lual?" ==  DHITO (keponakanku) Suatu sore di halaman belakang rumah orangtuaku, Dhito dan Qintan. Cuaca sore itu cerah sekali. Mereka berdua lagi asik ngobrol-ngobrol sambil nyanyi-nyanyi..Pas diminta nyanyi, Dhito nyanyi lagu ini, "Gundul..gundul pacul cul..gembelengan.." Hhihihihi....kaget aja anak umur segini udah nyanyi lagu jawa :))
 | Swirl | Apr 25, '08 12:32 AM for everyone |
Begini ilustrasi obrolan murid gambarku (N) dengan temannya (J), "J, rumah loe bertingkat ngga?" J menjawab,"Iya dong.." "Ada kolam renangnya ngga?" tanya N "Ada, emang lu ngga punya?" N cepat menukas," Ya punya,lah!" Hihi..gimana ya, kalau simak obrolan diatas suka geli sendiri. Itu baru ilustrasi nyata yang kualami sendiri. Dulu suamiku yang pernah mengajar di sekolah swasta mahal juga pernah mendengar obrolan murid-muridnya yang berencana liburan tahun ini ke luar negri, kali ini ke Belanda, tahun depan ke Jepang, dan kalau cuma ke Australia atau Singapura kali dianggap ngga level :)) Sebetulnya ngga ada yang salah kalau memang mereka dari keluarga mampu ya. Sah-sah aja dong, mau liburan kemana kalau memang kesempatan dan rejeki mencukupi dan memungkinkan (malah bagus buat menambah wawasan)..Tapi trenyuh ngga sih, kalau dengar ada anak yang malu mengajak temannya bermain ke rumah dengan alasan rumahnya tidak sebagus dan sebesar rumah teman bermainnya. Padahal rumahnya sendiri meski tidak besar sangat nyaman dan asri sekali. Trenyuh rasanya kalau dengar rengekan anak jaman sekarang yang minta dibelikan handphone seri terbaru karena teman sekelas ydah pada ganti HP semua..atau musti punya gamebox canggih supaya ngga dibilang kuper? Mungkin karena pas masa kecil jaman game Atari berjaya dan PlayStation belum ada, aku dan adikku terbilang susah untuk mendapatkannya dengan mudah. Kebetulan orangtuaku ngga pernah murah hati membelikan barang mainan mewah (LCD aja ngga pernah dibeli sampai tergantikan oleh DVD-itupun yang beli anaknya,hahaaa..), lain halnya dengan membeli buku.  Tapi sekarang anak-anak kecil dan ABG bisa apa? Lingkungan sekitarnya begitu kuat mempengaruhi gaya hidupnya. Mereka terjebak pusaran kuat dan ngga berdaya keluar kalau orangtuanya juga ikutan terjebak di lingkungan konsumtif..Kalau udah gini aku berterima kasih pada orangtuaku yang menyekolahkan aku sejak SMP di sekolah umum..berkenalan dengan teman yang ayahnya kerja jadi sopir bus PPD (jaman bus itu masih beroperasi), kenalan dengan anak seorang penjahit, kenalan dengan anak yang sepatunya bolong,kenal dengan anak yang ngga pernah makan hamburger.. Hidupku jadi lengkap, dan tidak cuma kenal anak-anak yang cuma bersahabat dari jenis mobil yang dipakai saat antar-jemput sekolah, atau yang cuma bisa komplen uang jajannya ngga pernah cukup. Disclaimer: Please note, bahasan diatas bukan bermaksud mendiskreditkan sekolah swasta, dan aku juga ga ada indikasi ngomongin sekolah beragama. Aku cuma mau angkat masalah perilaku dan kenangan masa kecil aja.
 Bukan..bukan ceritanya Enyd Blyton. Aku lagi ngobrolin keponakan-keponakanku... gara-gara nemu ini pas ngubek photobucket. Sekarang sih mereka udah lebih besar, keponakanku Haykel malah udah bisa nyetir mobil dan pacaran..hahaa.. Lalu ada Rama yang kayak bule, Chanti yang mirip aku, Qintan adik Chanti, dan Dhito. Sita lagi kemana ya? Si kecil Sita kayaknya pas di foto ini lagi maen ama ibunya.. Keponakan-keponakanku semua adalah permata keluargaku. Kalau mereka berkumpul (biasanya pas hari libur/hari raya), biasanya memeriahkan suasana. Karena udah lebih besar sekarang udah ngga ada sesi kejar-kejaran. Tetap kompak dan saling sayang ya!!
Link: http://www.suepearson.co.uk/category/132/70/R. John Wright Current Editions Bears at Sue Pearson Dolls and Teddy Bears. Aduh koleksi studio boneka ini bener-bener deh, bikin jatuh hati seketika. Semua boneka dibikin dalam jumlah terbatas. Soal harga jangan ditanya, semua mahal banget!
Tapi bagi pecinta bacaan klasik kayak Winnie-the-Pooh©; Raggedy Ann & Andy™; Rose O'Neill's Kewpies®; The World of Beatrix Potter™; classic Disney© characters; Paddington Bear™; Curious George®; St. Exupery's The Little Prince™ ; dan Lewis Carroll's Alice in Wonderland characters pasti suka banget lihat boneka-bonekanya di sini!
===
Established in 1976, R. John Wright Dolls has delighted collectors worldwide with inspired designs of bears, dolls and animals. These award-winning creations include: Winnie-the-Pooh©; Raggedy Ann & Andy™; Rose O'Neill's Kewpies®; The World of Beatrix Potter™; classic Disney© characters; Paddington Bear™; Curious George®; St. Exupery's The Little Prince™ ; and Lewis Carroll's Alice in Wonderland characters - all made in limited editions under John and Susan Wright's direct supervision at the R. John Wright studio workshop in Bennington, Vermont.
THESE PIECES ARE EITHER CURRENT IN STOCK PIECES, OR DUE SOON 
Terinspirasi kisah temanku tentang ibu-ibu.Menjadi ibu pasti anugrah tak ternilai. Banyak yang pengen punya bayi (look at me) dan membesarkannya supaya jadi anak yang berguna. Banyak pula ibu-ibu yang menearuh harapan terlampau tinggi dan di luar batas kemampuan anak-anak mereka. Aku jadi pengen cerita sedikit saat aku jadi guru gambar. Aku punya murid manis yang masih kecil, sebut saja namanya Joe. Joe kecil ini belum bisa menggambar, dan pemalu. Tapi dengan keterbatasan motoriknya bukan berarti dia malas belajar gambar. Dia selalu semangat dan kalau aku arahkan dia mau mencoba warna-warna baru.  Tiap anak kan punya bakat dan minat berbeda. Joe kecil baru berusia 3.5 tahun. Dia baru belajar beradaptasi, dan masuk playgroup. Berinteraksi dengan anak-anak lain baginya adalah hal yang masih menakutkan. Dia masih suka kaget dengan perilaku teman-temannya yang mentertawakan gambarnya yang tidak beraturan (aku tidak bilang jelek, karena tiap gambar anak selalu unik). Aku selalu mendekati Joe dengan hati-hati dan rajin mengajaknya bicara. Aku baru tahu kalau dia lebih suka menggambar mobil. Tapi dia mau belajar menggambar yang lain. Caranya mewarnai belum bisa rapi seperti anak-anak lain yang sudah bersekolah, tapi ia anak yang senang bermain warna. Aku berusaha supaya tempat ia belajar adalah tempat ia mengenal banyak warna dalam hidupnya :) Ibu Joe ingin supaya Joe lekas mengikuti standar gambar anak-anak yang lain. Suatu hari ia bertanya, mengapa gambar Joe tidak sebagus gambar Niken (nama muridku yang lain, tentu samaran). Padahal Niken sudah lama les di situ, dan dia memang berbakat menggambar. Tidak jarang ibu Joe suka ikutan komentar saat dia menjemput Joe pulang dan melihat hasil gambar Joe. Komentarnya selalu negatif. Ngga pernah rasanya aku mendengar sapaan manis setidaknya sedikit perhatian seperti menanyakan kabar anak bungsunya sore itu setelah mengikuti les. Aku sedih, ketika kemudian mengamati anak ini jadi suka membolos les. Alasan ibunya, Joe pemalas.Suatu hari ia menyelesaikan gambar dengan takut-takut. Biasanya dia semangat saat mewarnai, dan kali ini seringkali Joe melihat keluar jendela. Saat ibu Joe datang menjemput, Joe gelisah. Buku gambarnya ditutup rapat-rapat. sang ibu berkomentar,"..aduh Joe..kan udah Mami bilang, kalau awan jangan pakai warna ungu!!" Joe menangis. Aku merasa ditampar. Setelah mereka berdua, aku aja si ibu bicara. Intinya aku ajak si ibu untuk mengerti bahwa Joe menikmati proses mewarnai dan aku memangmembiarkan ia memilih warna sesuka hati. Si Ibu kaget mungkin ya, dan dia lagi-lagi pake alasan anaknya susah diatur (jaka Sembung, ngga nyambung!)...lalu menarik tangan Joe dengan keras. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Aku kangen Joe dengan awannya yang ungu. :"(
 | Category: | Books | | Genre: | Parenting & Families | | Author: | Jane K. Bates |
published: 2000 by Wadsworth Publishing binding :Paperback isbn : 0534522394 (isbn13: 9780534522391) pages: 336
This book introduces the reader to the field of teaching, discusses theory and practice of Art Education, and synthesizes and prepares the reader to make the transition from reader to Art teacher. It presents art education as an integration of philosophy, history, theory, and practice. Bates illustrates how to apply theory to practice as an art educator. Models, methods, and experiences are provided to enlighten, inspire, and amuse. BECOMING AN ART TEACHER is a refreshing approach to art methods. 
 | Category: | Books | | Genre: | Parenting & Families | | Author: | Nancy Beal and Gloria Bley Miller |
published : 2001 by Farrar, Straus and Giroux binding: Paperback isbn: 0374527709 (isbn13: 9780374527709) pages : 240 description: An inspiring and comprehensive guide to art education.
I use this book in my first year of teaching art class. It's very useful and handy. The author gave a lot of study cases and how to handle certain situations.
==
An inspiring and comprehensive guide to art education.
In this accessibly written guide for classroom and art teachers as well as parents, Nancy Beal shows how to release children's marvelous gifts of expression. Beal believes that children must first of all be comfortable with their materials. She focuses on six basic media: collage, drawing, painting, clay, printmaking, and construction. She gives practical consideration to all facets of a teacher's responsibility: how each material should be introduced; what supplies are best; how a classroom may be set up to support children's explorations; and how teachers may ask open-ed questions to stimulate personal and meaningful expression. Beal also discusses how to integrate art into social studies and how to make museum visits productive and fun. Each chapter includes a section specifically for parents on helping their children create art at home.
Beal has taught art to children for twenty-five years and is able to draw on a wealth of examples from her classroom. The Art of Teaching Art to Children is extensively illustrated with her students' art, visual proof of her gifts as an educator and art enthusiast. 
|  | These pictures are my niece and nephew's doodles. I will add some of mine later :) |
|
|