What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag nostalgia
Terinspirasi oleh Dydy yang menulis masa kecilnya, jadi pengen cerita masa kecilku dulu.
Bisa dibilang aku punya masa kecil bahagia. Setidaknya aku hanya ingat di Cilacap aku bersekolah si TK Pius dengan suasana Katolik yang menyenangkan.
Tahun 1982 aku mengikuti keluargaku pindah ke Medan. Kota ini lebih besar jelas, dibandingkan Cilacap. Dan lebih ramai. Aku harus terkaget-kaget dengan budaya berbeda, dimana logat Cilacap-an ku selalu ditertawakan, dan aku merasa aneh mendengar logat Medan teman-teman sekolahku yang baru. Semua pakai akhiran-la. Sini,la! Ambil, la! Sekarang, la!
Belum lagi mati gaya dan bingung kalau mereka pinjam penggarisanku. Karena di Medan disebut dengan Rol atau Belebas.Kalau aku pakai anting-anting, disebutnya aku pakai kerabu. Banyak deh istilah yang semula asing terdengar di telinga. Aku serasa jadi alien di negara sendiri,hahahah!
Aku betah tinggal di Medan, meski dulu aku adalah anak yang sakit-sakitan. Ya, aku mengidap asma dari kecil, dan pas tinggal di Medan rasanya sering kambuh. Aku sering bolak-balikke RS. Elizabeth, dan berobat ke sana-sini. (Ternyata baru cocok dengan pengobatan akupunktur)...
Tanyalah pada temanku Rina, yang mengaku tidak merasa pernah duduk sebangku denganku (hahaha..saking dalam seminggu aku hanya masuk separo-nya). Aku juga teringat Sahara (nama samaran), yang dengan semena-mena di depan teman-teman sekelas menyuruhku ganti nama karena sering sakit (padahal kan aku suka namaku!) hihi..dulu sih rasanya sakit hati, sekarang jadi geli pas inget.
Karena keterbatasan kondisi fisik, aku juga jadi ngga bisa olahraga, dan jadi ngga suka olahraga. Bermain kasti adalah siksaan. Apalagi kalau harus lari keliling lapangan A.Yani yang buatku dulu luaaas...sekali! bayangkan aja dengan foto yang diambil saat terakhir aku ke sana. Rasanya taman ini dulu jauh lebih rindang dan masih banyak pepohonan yang berukuran besar.
Yang membuatku bertahan melalui masa kecil kurasa adalah aku punya keluarga yang hangat, meski sedikit sekali teman bermain. Tapi aku masih berhubungan lho, dengan teman-teman SD-ku. Kami punya milis sendiri buat alumni SD Harapan 2 angkatan lulus 1988. Ada yang kenal?
Aku juga senang karena meski jarang masuk sekolah aku rajin mewakili sekolah di beberpa lomba gambar (jadi banyakan jalan-jalan daripada di kelas, heheh).
<a>Addendum:</b> Siapa yang sangka, sekarang aku menikah dengan teman sekelas SD, dan satu kantor juga ama teman SD lain kelas..Hmm..kebetulan yang aneh!
Perasaan tanggal segini uang gajian kok cepat banget ya melayang...hihihi..wah, ga bener nih,..kudu mengetatkan ikat pinggang dan lebih giat lagi cari kerjaan sampingan..Soalnya jangan sampai uang tabungan terpakai..Kan mau ke Belgia (baca: mimpi kali ye..)
Kalau kalian sendiri gimana cara ngakalinnya?
Hahhaa..aku jadi inget ama Yoyon. Dia finance di kantorku dulu. Kalau kami beramai-ramai pesan makan siang warteg ama OB, dia dengan riangnya bertanya," Lagi bokek ya, belum gajian ya?" Hihiihi...
Sementara kalau ada yang pesan/makan makanan dari luar, nanti ledekannya keluar lagi," ..Lagi banyak duit ya?" Hihihihi...
Tapi jangan salah sangka lho ya, anak itu bukan bermaksud nyinyir kok..Malah karena ngomongnya meledek, jadi pernah ada yang sakit hati rasanya. Malah kita jadi balik ngeledekin..
Khas Yoyon lagi kalau mendekati akhir bulan: "Tanggal berapa sih, sekarang? Wah, udah mau gajian yah...Gajian bulan lalu aja gue masih banyak sisanya..."
Maka tanpa aba-aba pasti kami beramai-ramai akan melihat ke arah mejanya dengan pandangan sedingin es..hahahha!..
Buat SR94-ers.. Ada foto baru, sumbangan dari Othus :) Kaget dan ngga nyangka juga, tiba-tiba dia ngirim naskah lagu ospek dan foto anak cowok SR94 yang berpose di Jonas.. Ya ampun..anak cewek SR94 aja ngga ada yang foto di Jonas! Hahhaaa!!
Nama temanya Gemesh-94. Ngga tau kenapa demikian bunyinya. Foto-foto ini masih akan bertambah, aku susun sesuai urutan peristiwa.
Banyak yang bilang OSPEK itu acara ngga berguna (memang iya, sih..hihi). Tapi aku pikir dengan ikutan acara ini jadi lebih kenal karakter teman sendiri lho. Kaget aja gitu, pas lagi diburu-buru kudu bagikan alat makan pas di gunung, masih ada aja yang komplen pengen pake piring miliknya sendiri..Yaolo, namanya aja darurat :D
Ospek angkatanku ini kayaknya paling top. Panitia berhasil membangun suasana mistis tanpa menjadi klenik. Bau dupa atau kemenyan jadi menu utama, herannya sekarang aku malah jadi ngga serem kalau nyium bau ini..hahaha..malah inget ama SR.
Thanks buat yang udah motretin peristiwa ini. Aku ngga ingat dapat dari siapa, yang jelas pinjam beberapa klise dari senior waktu itu.
I lived in a small town called Cilacap. Cilacap (old spelling: Tjilatjap) is a regency (Indonesian: kabupaten) in the southwestern part of Central Java province in Indonesia.
Tiap keluarga punya gaya komunikasi dan becanda yang berbeda. Termasuk keluargaku, coba deh simak celetukan yang melibatkan semua keponakanku di bawah ini ini:
Tentang RAMA (keponakanku)
Oom Lukis : "Ram, play station 2nya rusak ya?" Rama : "Udah jalan kok!" Tante Dewi (goda-goda) : "Jalan kemana?" Rama (serius) : "Maksudnya, udah betul...." Oom Lukis (goda-goda) : "Emang tadi salah berapa?" Rama (serius) : "????"
SITA (keponakanku) DI MOBIL
Sita (di mobil) : "Yaaah, kartunya jatuh..." (Oom Lukis bantu mencari, nggak ketemu) Tante Dewi : "Heran, masak kartu segepok jatuh nggak kelihatan berceceran???" Mama Yona : "Ya sudah Sita, nanti dicarinya kalau sudah sampai di rumah.." Dhito : "Iya Sit, kamu itu harus bisa menerima takdir....."
HAYKEL (keponakanku) Ini cerita pas Haykel masih berumur 6 tahun, dan Chanti 4 tahun..Mereka lagi ngobrol sambil gambar-gambar di lantai kamar ceu Dewi. Aku ada di situ baca majalah, tapi pura-pura ngga dengar :D
Haykel: "Chanti, ngga enak ya jadi anak sulung.." Chanti : *mumbling ga jelas, lagi asik gambar," Hu-uh.."
==
QINTAN (keponakanku)
Waktu itu dia masih balita, dan lagi duduk bareng ibunya yang sedang baca koran
Mama Lia:" Dek Qintan, duh kasihan deh... ada kecelakaan bus..yang di dalam bus meninggal semua.." Qintan:" Kalau yang di lual?"
==
DHITO (keponakanku)
Suatu sore di halaman belakang rumah orangtuaku, Dhito dan Qintan. Cuaca sore itu cerah sekali. Mereka berdua lagi asik ngobrol-ngobrol sambil nyanyi-nyanyi..Pas diminta nyanyi, Dhito nyanyi lagu ini, "Gundul..gundul pacul cul..gembelengan.." Hhihihihi....kaget aja anak umur segini udah nyanyi lagu jawa :))
Baru-baru ini Gramedia membeli hak peredaran komik Tintin Indonesia dari penerbit INDIRA dengan berbagai perubahan mendasar, misalnya nama-nama tokoh yang mengacu pada terbitan Perancis. Maklum, INDIRA mengacu pada Tintin terbitan Inggris (Egmont) . Terbitan Gramedia konon berubah untuk lebih mengacu pada edisi asli Belgia yang notabene penduduknya berbahasa Perancis.
Dulu, karakter yang kukenal dekat bernama Snowy, Prof. Calculus, Thompson dan Thomson, mungkin sekarang membiasakan diri dengan nama-nama baru. Misalnya: -Snowy menjadi Milo (Perancis: Milou) -Calculus jadi Lakmus (bahan kimia), -Thompson dan Thomson jadi Dupont cs (Perancis: Dupond and Dupont)
Waah..susahnya..Gimana mungkin mengubah kenangan yang begitu berkesan? Seperti mengutip ucapan pak Pandu dari Paguyuban Karl May yang juga pecinta Tintin, "Aha, hijrahnya Tangtang (kok rasanya aneh ya? bukan Tintin) dari Indira ke Gramedia ini mengingatkan saya pada kasus Winnetou di Indonesia... Apalagi kalau penerjemah yang sekarang (usia 25-40 tahunan ) sama sekali tidak pernah membaca terjemahan yang versi dulu. Memang mahal kok harga suatu nostalgia itu."
Jawaban dari GPU seputar penggantian nama: "Snowy adalah nama di Tintin edisi bahasa Inggris (penerbit Egmont), sementara GPU punya kontrak dengan penerbit Tintin yg asli, yaitu Casterman, untuk menerbitkannya dalam bahasa edisi aslinya, yaitu Prancis.
Milou diubah jadi Milo dengan pertimbangan Milo lebih mudah diucapkan anak-anak sini karena pengucapannya sesuai penulisannya, sementara Milou kan diucapkan Milu. Selain itu rasanya Milo sebagai merek susu cokelat sudah cukup familier untuk anak-anak sini."
Aku sendiri sebetulnya berniat beli edisi terbaru terbitan Gramedia ini. Tapi sejak membaca ulasan teman-teman di milis Tintin Id, kok jadi ragu ya. Aku agak ragu bisa nyaman mengubah segala kebiasaan lama.
Apakah sumpah serapah Captain Haddock (nama barunya siapa ya?) akan diperhalus? Padahal aku suka banget " Billions of bilious blistering barnacles!"-nya!
Trus ada ganjalan soal penerjemahan Tintin Indonesia ini:
" Soal terjemahan GPU, emang rasanya singkatan-singkatan yang ada itu menggangu deh. Sudah menjadi tugas penerjemah untuk bisa menerjemahkan dengan mengira-ngira tempat yang tersedia untuk tulisannya seberapa besar. Kalau tampaknya tidak cukup ya harusnya terjemahannya diperbaiki, jangan malah menggunakan singkatan.- Gege"
== Wah, kalau gitu aku ada alasan buat menjadikan lemari buku berisi kumpulan komik Tintin jadi peninggalan berharga,ya! :)
Karena selain udah ganti gaya bahasa, ada yang bertanya di milis soal mutu cetakan komik Tintin di bursa buku bekas, berikut jawaban dari moderator milis:
" Saat tahun 2005 Indira bangkit kembali, mereka mencetak seluruh 23 judul Tintin yg pernah Indira terbitkan. Alph Art tidak, krn belum pernah sebelumnya diterbitkan. Bbrp tahun sebelumnya Indira tertimpa musibah, yaitu kantor dan gudangnya terbakar. Seluruh film master musnah dan yg selamat hanya bbrp termasuk Tintin. Itupun kondisinya tidak sempurna.
Indira sudah memperpanjang kontrak dgn Casterman dan dijanjikan file master Tintin dlm format data. Bukan film. Adanya format data dipastikan kualitas gambar serupa dgn versi aslinya. Namun hingga 2 bulan menjelang peluncuran, CDR tidak kunjung tiba. Indira mengambil keputusan utk mencetak seluruh Tintin menggunakan film master yg tidak terlalu bagus itu (sebagian scan dari komik). Tintin di Tibet tidak dicetak krn film masternya ngga bisa dipakai. Jadi total ada 22 judul yg dicetak ulang.
Ke-22 judul itulah yg beredar hingga hari ini, jika masih ada. Ke-22 judul itu tampilannya tidak meyakinkan dan terkesan bajakan. Baru belakangan Tibet dicetak menggunakan data CD dan hasilnya memang cemerlang.
Jadi saya yakin komik2 Tintin yg teman2 yakini sbg bajakan itu 9krn kualitasnya jelek), sebenarnya adalah asli.
Di kemudian hari, Casterman menegur Indira krn hasil Tintin tidak memenuhi standar Casterman. Well, itulah akibatnya jika Casterman ngirim CDR aja lelet. Buruknya cetakan Indira itulah yg menjadi pemicu putusnya kerja sama sejak Rahasia Pulau Hitam terbit tahun 1974
Wuih..udah lama ngga ngajar gambar buat anak-anak SMA. Biasanya aku tiap Sabtu cuma ngajar anak-anak kecil..hihi..
Kemarin aku bantuin adik Juli yang mau masuk seolah senirupa di Jakarta. Bisa dibilang ini les kilat sih, karena pada dasarnya dia sudah bisa gambar, hanya tekniknya banyak yang belum sempurna. Mudah-mudahan berhasil :)
Jadi ingat pas dulu ikutan bimbel, kerjaan digangguin senior yang iseng. Tahu sendirilah para mahasiswa Seni Rupa (SR). Tapi gara-gara ikutan bimbel ini jadi tambah semangat supaya bisa lulus ujian masuk seni rupa ITB. Soalnya semua tutornya seru dan asik. Aku jadi tahu gimana cara menggambar yang baik dan benar. Dikasih banyak tips berguna dan mendengar banyak pengalaman-pengalaman seru mereka saat kuliah di SR. Semangat inilah yang membuatku jadi ingin berbagi ilmu kalau ada yang pengen masuk senirupa. Seperti udah jadi kewajiban aja, dan aku lakukan dengan senang hati :). Mungkin bagiku karena bisa keterima di SR ITB bukan hanya kebanggaan tersendiri, tapi aku memang bersyukur sangat menikmati masa kuliah di sini dan belajar segala hal yang merupakan minatku juga.
Sementara semua bangsa panas gara-gara aksi menghebohkan Geert Wilders..mengingatkan aku pada Wilder yang lain.
Buat kalian yang besar ditahun 80-an pasti ingat film keluarga Wilder yang baik hati. Sederhana, bersahaja, dan selalu menanamkan nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kayak apa ya, si Geert Wilder dibesarkan? Tidakkah ia diajari oleh ibu-bapaknya bahwa semua manusia di mata Tuhan adalah sama?
Anjing menggonggong kafilah berlalu.
Kangen deh nonton film Little House in The Prairie lagi.. Ngga pernah gerah kalau menonton filmnya..ngikutin ceritanya..I miss Little House on The Prairie..I miss the Wilders, not that Wilder :P
Strangers in the night exchanging glances Wond'ring in the night What were the chances we'd be sharing love Before the night was through.
Something in your eyes was so inviting, Something in you smile was so exciting, Something in my heart, Told me I must have you.
Strangers in the night, two lonely people We were strangers in the night Up to the moment When we said our first hello. Little did we know Love was just a glance away, A warm embracing dance away and -
Ever since that night we've been together Lovers at first sight, in love forever It turned out so right, For strangers in the night
Thanks for sharing Mi..karena Almy, aku jadi terinspirasimenulis kenangan masa SD. Berikut tulisanku yang kukirim ke milis SD Harapan 2- Medan:
"Apa yang aku ingat ya pas SD ya? Usulku, kita beri tema aja biar ngga meleber ke sana kemari..karena Almy bahas soal guru, jadi bahasan kali ini judulnya GURU, ya..
Ingat kan, tiap Maulid kita harus pake baju muslim dan harus bawa kue-kue enak dari rumah? Selalu, di hari istimewa itu, ibuku membeli kue kesukaanku (dari Tahiti: chicken pastry) buat dibawa ke sekolah. Aku ngga pernah bawa biskuit, selalu kue yang enak, dengan harapan ibuku untuk dimakan sendiri.
Ndilala, ternyata kan kue-kue yummy itu kudu dikumpulkan, waktu itu kelas 5, kelas bu K (yang pernah bikin skandal topi smurf kuning karena topi hajinya bentuknya besar melengkung). Setelah dikumpulin dibagi rata, jadi tiap anak bisa dapat banyak beragam kue.
Jadilah kue yang disiapkan ibuku tercampur dengan milik teman-teman sekelas lainnya. Dan biasanya beberapa anak ditunjuk buat bagikan kue-kue itu..dan biasanya aku ngga pernah dapat chicken pastry-ku kembali, tapi gantinya aku dapat macam-macam wafer dan biskuit Khong Guan. Akhirnya bisa ketebak, ibuku kaget pas aku cerita dan marah sekali. Hahahhahahahahahahah!
Ternyata kue-kue yang enak selalu disimpan ibu K di lemari kelas. Teganya teganya teganya..."
Kumpulan foto-foto selama masih bekerja di CDA 1999-2004. CDA adalah bekas tempatku bekerja.
Kerja di sini waktu itu adalah impian semua orang karena semua karyawannya (dan pernah punya boss) sebaya, ngga ada yang nyinyir, pokoknya kekeluargaan banget.
Sayang CDA harus bubar jalan setelah merger dengan perusahaan lain.
Berikut catatan perjalananku selama libur lebaran. Liburan di Bandung akan diceritakan di postingan terpisah. Perjalananku dan Oscar ke Medan dilakukan mendadak saat kami masih berkumpul dengan keluargaku di Bandung dan masih dalam suasana lebaran.
15 Oktober 2007
Setelah hampir duapuluh (20) tahun tidak kembali ke Medan, akhirnya aku ke Medan juga dengan Oscar seperti memenuhi niat kami semula. Meski kepergian kami ke Medan tidak seperti yang direncanakan, karena kami ke Medan mendadak karena berita duka yang datang dari keluarga Oscar.
Ya, telah berpulang ke Rahmatullah, kakanda Ika Kartika pada tanggal 15 Oktober 2005, hanya selang beberapa hari setelah ulang tahun beliau yang ke-45. Teh Ika, demikian adik-adiknya memanggilnya, meninggal dunia karena gagal jantung, meninggalkan seorang suami, tiga orang anak kandung dan beberapa anak angkat dan anak asuh.
Blessing in disguise.
Di sela kesedihan kami, banyak pula hal-hal yang membukakan mata, dan menghibur kami sekeluarga. Kami jadi tahu bahwa mendiang disayangi banyak orang, mulai dari mahasiswa/i yang ia ajar, teman-teman lama, kolega, sampai anak-anak asuh yang dengan rela membantu mengurus persiapan pemakaman. Semua cinta yang mereka tunjukkan menghapus kesedihan kami. Setidaknya, kami yakin banyak yang mendoakan Teh Ika di sana.
Siapa pula yang menyangka, libur lebaran di Bandung keluargaku jadi dipercepat, dan seperti yang sudah diatur Tuhan, aku dan Oscar bisa pergi ke Medan untuk menghadiri pemakaman padahal untuk dapat tiket ke Medan mendadak tidak gampang, dan seperti kebetulan, pesawat Garuda yang kami naiki dibawa sendiri oleh Bang Yani! Subhanallah. Aku dan Oscar berangkat bersama sepupu bang Joko dan istri, Teh Didit+Unez, dan Kel.Bang Luhur.
Setelah pemakaman dilakukan dengan lancar, tiket pulang sudah didapat berkat bantuan bang Tommy-sahabat bang Luh, aku dan Oscar lebih banyak tinggal di rumah duka untuk berkumpul dengan para saudara.
Sebetulnya sempat juga jalan-jalan ke daerah Kanton, tapi laporan jalan-jalan di sana kapan-kapan aja aku ceritakan ya.
19 Oktober 2007
Aku dan Oscar masih punya waktu untuk jalan-jalan nostalgia masa kecil kami di Medan.
Sebetulnya banyak tempat yang ingin kami kunjungi. Tapi karena keterbatasan waktu dan kesempatan, diputuskan untuk mengunjungi beberapa tempat yang paling penting kenangannya, dan paling mungkin ditempuh dalam waktu singkat.
Aku dan Oscar lalu naik becak motor dan memulai perjalanan dari Jl. Ubi ke rumahku masa kecil di Jl. Sei Wampu. Ternyata nama jalan itu sudah lama berubah, pantas saja si abang becak bingung. Untung ia mengerti daerah yang kujelaskan, yaitu arah Batugingging di Medan Baru, Jl. KH.Wahid Hasyim.
Aku dan adikku Roy suka berlari-lari dengan anjingku Taggy di halaman rumah yang semula banyak pohon Mangga dan beberapa pohon buahnya. Sekarang rumah ini lebih terlihat terbuka, dan ada beberapa bagian rumah yang di renovasi. Tapi hiks,..pusing liat warna kuningnya.
Dulu rumah ini berwarna putih dan masih rumah Belanda..
Dari rumah penuh kenangan, becak motor kami melanjutkan perjalanan ke daerah jl. Imam Bonjol, tempat sekolahku dan Oscar (ya, kami teman sekelas pas SD, heheh)..Di depan sekolah kami ada taman besar bernama Taman Ahmad Yani. Di taman yang luas ini berdirilah patung Jend.A.Yani yang gagah menunjuk ke arah Polonia.
Dulu, waktu masih sekolah, inilah tempat kami berolahraga tiap hari Rabu. Tiap anak setelah melakukan pemanasan harus mengelilingi patung ini untuk anak-anak SD, dan untuk anak-anak kelas 6 atau SMP mengelilingi areal taman yang lebih luas.
Rasanya pas masih kecil luaaaaaaaaas sekali! Lari beberapa putaran buat pengidap asma seperi aku sangat berat dan menyiksa. :))
Nah inilah sekolahku dulu. Aku sekolah di sini mulai dari TK sampai kelas 6 SD di Yayasan Pendididkan Harapan 2. Ini sekolah swasta muslim, mungkin seperti Al Azhar di Jakarta.
Bobot pelajaran agamanya banyak sekali dan bisa dibilang sedikit konservatif terutama untuk pendidikan dasarnya, dan yang aku ingat dulu jarang sekali anak laki-laki bisa bebas bermain dengan anak perempuan. Mungkin itu sebabnya aku kurang kenal Oscar pas masih kecil. Heheheh...
Ternyata jalan raya di depan sekolah tidak sebesar bayanganku semula..Maklum dulu pas masih kecil ngeri rasanya mau nyebrang jalan...
Pas aku foto, di sebelah sekolah, gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) sedang ada acara..Jadi inget, dulu kalau gereja itu ada kebaktian dengan lagu berbahasa bataknya, aku dan Ulfa teman lamaku suka penasaran mereka itu sedang nyanyiin apa..Maklum, ga ngerti bahasa Batak sama sekali..
Waktu sudah menunjukkan pukul 15, kami harus bergegas ke daerah Kesawan. Ini termasuk daerah Pecinan yang seklias mirip dengan daerah Braga di Bandung. Tokonya rapat-rapat, dan bangunanya masih banyak yang berasal dari jaman Belanda.
Aku sempat ambil foto rumah Taipan Medan jaman baheula, Tjong A Fie.
Di Kesawan inilah aku dan Oscar turun dari becak motor. Ongkos yang dikeluarkan buat jalan-jalan sebesar Rp.15.000,- itupun aku rasa si tukang becak baik banget udahmau sabar nungguin kami foto-foto.
Di Kesawan, aku dan Oscar mau makan siang (telat) di restoran Tiptop. Restoran ini udah ada jaman Belanda, rencananya kakak-kakak Oscar lainnya akan janjian ketemuan untuk makan siang di sini.
Restoran Tiptop menu andalannya Kakap Goreng. Tapi aku dan Oscar memesan yang lain, yaitu salad udang, sirloin steak dan aku pesan steak lidah (yumy!). Serasa jadi orang Belanda..hahah...Kapan-kapan aku posting fotonya lagi deh..
Demikianlah catatan perjalanan dadakan ini. Sampai detik inipun aku masih ngga percaya bisa mengunjungi Medan, meski dalam suasana duka.
Suatu saat aku dan Oscar akan kembali ke Medan. Mudah-mudahan dalam kesempatan yang lebih baik dan mood yang lebih baik. Insya Allah.
Hoho..ini memang ternyata buka postingan terakhir, karena aku baru nemu lagi file dan link lama...Berhubung 3 bulan lagi ulang tahun perkawinanku yang ke empat, boleh dong mellow-jellow..
Situs kawinanku masih ada..aku aja lupa bahwa masih punya. Bagi yang belum lihat silakan lihat-lihat...dan blog pas awal menikah juga ada..isinya garing, maklum masih euforia pengantin baru..semua terlihat indah, hahhaa..(masih kok, masih indah :P ). Blog itu tentunya tidak aktif lagi karena setelah melanglangbuana menulis jurnal, akhirnya aku nulis di MP.
Tgl.9 besok ada arisan keluarga. Di hari yang sama ada offline IHP di Monas. Kecil kemungkinan ke Monas, karena arisan keluargaku ini udah lama ngga diadain semenjak wa Pien masuk rumah sakit semua jadi pada lupa mau ketemuan.
Bukan itu sih yang jadi bahan obrolan kali ini. Aku baru aja jalan-jalan ke blog tetangga, kebetulan ada foro makanan pas arisan di rumah temannya. Jadi inget, tiap arisan keluarga makanan selalu jadi perhatian tersendiri. Maksudnya, kalau lagi arisan keluarga, biasanya kan pake sistem potluck, jadi tuan rumah cuma sedia nasi, lauk pauk beberapa macam dan mungkin minuman.
Arisan berkesan buatku adalah pas rumahku jadi tempat arisan keluarga, udah lama banget, pas aku baru pindahan, rumah masih belum banyak perabotnya. Untung udah ada meja makan buat menghidangkan masakan, sisanya duduk lesehan..hahahaa..Maklum,waktu itu masih pengantin baru..Yang penting sodara2 sepupu makan dengan lahap dan ngga ada makanan yang kurang/kebuang percuma, itu aja yang penting,kan?